5 Orang Sukses di Indonesia Yang Mengawali Semua Hanya Dari Hobi
1. Achmad Zaky CEO Bukalapak.Com
Karier Zaky berawal dari
keaktifannya di dunia teknologi dan entrepreneurship sewaktu
di ITB. Ia mendapatkan tawaran mengerjakan software quickcount pemilu
dengan nilai 1,5 juta untuk sebuah stasiun televisi nasional. Setelah lulus dari ITB, ia mendirikan
perusahaan jasa konsultasi teknologi bernama Suitmedia.
Zaky juga pernah sempat mencoba
untuk membuka usaha kuliner mi ayam dengan sewaktu kuliah yang akhirnya
bangkrut. Zaky menghabiskan seluruh uang hasil menang dari berbagai perlombaan.
Waktu itu kami keracunan virus
entrepreneurship, pas ngumpul sama teman-teman tiba-tiba kepikiran dan pengen
bikin warung mie. Uang saya dari lomba habis semua kesedot kesitu karena
bangkrut. Takut dan trauma rasanya waktu itu, tapi saya berpikir ini seperti
sekolah, mahal sekali biayanya, saya yakin ada pelajaran berharga.
Bermodal pengalaman membangun sistem
IT banyak perusahaan besar, Zaky lantas terpikir untuk membuat sesuatu yang
lebih bermanfaat bagi banyak orang. Dari sinilah, Bukalapak.com mulai dirintis
pada tahun 2010. Ia bermimpi untuk mengubah hidup banyak orang
dengan memajukan UMKM lewat internet. Code base Bukalapak
diselesaikan dalam waktu dua bulan. Awalnya, Zaky mengajak para pedagang
di mall untuk bergabung di Bukalapak. Tetapi, respon yang
diberikan oleh mereka sangat kecil. Klien pertama yang ia dapat justru dari
pedagang kecil. Ketika ditanya mengapa mereka mau bergabung, alasannya adalah
karena barang mereka di toko tidak laku. Karena itu, mereka meminta bantuan
Zaky untuk menjualnya di Bukalapak. Sejak itu, Ia pun memfokuskan diri mengajak
para pelaku UMKM yang belum begitu berkembang. Pada tahun 2011, sudah ada
sekitar 10.000 pedagang yang bergabung di Bukalapak.
Pertumbuhan Bukalapak yang sangat
pesat menarik minat banyak investor untuk menanamkan modal di Bukalapak.
Beberapa di antaranya adalah 500 Startups, Batavia Incubator, IMJ Investment,
dan juga Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK Group).
2. Andre Darwis Kaskus
Di balik kesuksesan Kaskus yang dia
dirikan, siapa sangka kalau Darwis dikenal sebagai anak nakal dan pernah tidak
naik kelas saat bersekolah.
Hal ini membuat Andrew sempat minder
dan kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Namun boominnya Internet di Indonesia,
mengambil kesempatan dengan kuliah di juruan Teknik Informatika Universitas
Bina Nusantara.
Andrew yang hobi berselancar di
dunia maya, kemudian memperdalam ilmunya dengan melanjutkan kuliah di
Amerika. Di momen inilah, Kaskus lahir.
Untuk mewujudkan cita-citanya ini,
Andrew bahkan sempat bekerja di restoran cepat saji Amerika. Perjuangan Andrew
membuahkan hasil, Kaskus sempat dan masih menjadi plaform favorit anak muda
Indonesia
3. Nadiem Makarim GO-JEK
Pada tahun 2006, Nadiem memulai
kariernya sebagai konsultan manajemen di McKinsey
& Company. Setelah memperoleh gelar MBA, ia terjun sebagai
pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia. Di
perusahaan tersebut ia juga menjabat sebagai Managing Editor.
Setelah keluar dari Zalora, ia kemudian menjabat sebagai Chief
Innovation Officer (CIO) Kartuku, sebelum akhirnya fokus mengembangkan
Go-Jek yang telah ia rintis sejak tahun 2011. Saat ini Go-Jek
merupakan perusahaan rintisan terbesar di Indonesia. Pada bulan Agustus 2016,
perusahaan ini memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau sekitar Rp 7,2
triliun dari konsorsium yang terdiri dari KKR, Sequoia Capital, Capital Group,
Rakuten Ventures, NSI Ventures, Northstar Group, DST Global, Farallon Capital
Management, Warburg Pincus, dan Formation Group.
4. Ferry Unardi Traveloka
Dibanding disebut sebagai
entrepreneur, Ferry Unardi lebih senang disebut sebagai Engineer. Ferry sudah
menyukai dunia teknik informatika sejak remaja, dan pernah bekerja di Microsoft
selama beberapa tahun.
Segalanya berawal dari frustrasi
yang dirasakannya ketika memesan tiket pesawat dari Boston ke Ke Seattle dan ke
Padang. Ferry mengalami kesulitan membooking tiket pesawat karena
harus memperkirakan rutenya.
Di saat itulah, ide untuk mendirikan
Traveloka tercetus. Barangkali bisa dikatakan bahwa Ferry Unardi adalah Mark
Zuckerberg-nya Indonesia. Bgaaimana tidaak? Ia sempat menghetikan kuliahnya di
Harvard demi membangun usahanya.
Namun Ferry percaya dengan
keputusannya. Dari tim kecil, Traveloka menjelma menjadi perusahaan yang
berhasil mendapat kucuran dana dari East Ventures dan menjadi salah satu
e-commerce travel yang terkemuka di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara.
5. Ni Luh Ary Pertami Djelantik
Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik
adalah pemilik merk dagang sepatu Niluh Djelantik. Sebelum serius menekuni di
bidang rancang sepatu, Niluh Djelantik meraih penghargaan Best Fashion Brand
& Designer The Yak Awards 2010. Kecintaannya pada sepatu menuntunnya
menekuni bisnis sepatu yang kini telah dikenal dunia. Tak hanya memenangi penghargaan,
label ini juga telah menembus Globus Switzerland, salah satu retailer terkemuka
di Eropa, pada 2011.
Pencapaian tersebut berlanjut di tahun 2012, di mana dia kemudian berkesempatan
menjalin kerja sama dengan retailer dari Rusia.






Comments
Post a Comment